BI : Pertumbuhan Kredit Perbankan Masih Lemah

Bank Indonesia (BI) mengakui pertumbuhan kredit perbankan masih lemah lantaran pengaruh perlambatan ekonomi global.

Menurut bank sentral, hingga Juli 2016, pertumbuhan kredit perbankan masih mencapai 7,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Capaian pertumbuhan kredit tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan Juni 2016 yang mencapai 8,9 persen secara year on year.

“Kredit belum optimal. kami melihat kondisi ekonomi global masih belum mengalami perbaikan,” kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Menurut Agus, perlambatan ekonomi global berpengaruh besar terhadap permintaan kredit, terutama dari valuta asing.

Namun demikian, kata dia, permintaan kredit dalam mata uang rupiah masih dalam kondisi yang cukup baik.

“Permintaan kredit dalam rupiah cukup, tapi outstanding pinjaman dalam valuta asing turun tajam. Karena pinjaman valas turun, pertumbuhan kredit gabungan kelihatan terbatas,” ungkap Agus.

Ia memaparkan, kebijakan moneter yang digulirkan BI sebenarnya telah berpengaruh terhadap penurunan suku bunga.

Agus menyatakan, suku bunga deposito telah turun 100 basis poin namun suku bunga kredit masih terbatas, yakni 52 basis poin.

Meskipun terjadi penurunan suku bunga kredit, namun permintaan kredit belum meningkat. Pasalnya, perbankan juga berhati-hati terhadap rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

“Perbankan lebih hati-hati karena NPL sedikit meningkat. NPL sedikit meningkat dari 2,9 persen menjadi 3,2 persen,” jelas Agus.

Leave a Reply

Masukan kode dibawah

Copyright © 2019 Alumni SMPN 16 Palembang · All rights reserved · created by Ratim